Senin, 10 Oktober 2016

Kisah Penemu Coca Cola yang Meninggal dalam Keadaan Miskin

Mungkin selama ini banyak orang mengira bahwa yang menciptakan Coca Cola adalah seorang businessman yang berhubungan dengan hobi kuliner. Namun siapa sangka ternyata seseorang yang menciptakan Coca Cola itu adalah seorang ahli farmasi. Dia adalah John Stith Pemberton, ahli farmasi yang tinggal di Atlanta, Georgia, Amerika Serikat. Ia mendapatkan gelar kedokteran dalam bidang farmasi dari Universitas Philadelphia. Pria yang lahir pada 1831 ini menjalani karier sebagai pemimpin pasukan di bidang militer berpangkat letnan satu dalam kesatuan angkatan darat.
Selama lima tahun John Stith Pemberton berkarier di bidang militer, langkah selanjutnya Pemberton bekerja sebagai asisten Dr Austin Walker, dia adalah seorang psikolog. Pemberton mulai menyimpan penghasilannya selama bekerja untuk melakukan penelitian dan pengembangan dalam bidang hak kepemilikan barang atau produk, seperti parfum dan obat-obatan tradisional.


Bentuk Karakter Remaja Lebih Positif dengan Kegiatan Luar Ruang

Belakangan ini kegiatan luar ruang bagi anak remaja semakin mendapatkan perhatian karena dipercaya membawa pengaruh positif yang manfaatnya terasa secara langsung dan secara jangka panjang. Meningkatnya kreatifitas dan menurunnya tingkat stres termasuk beberapa dari pengaruh positif yang banyak didiskusikan para ahli.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Journal of Experimental Psychology mendemonstrasikan hubungan yang erat antara berjalan di luar ruang dengan peningkatan kreatifitas dalam menciptakan ide-ide baru. Sementara itu sebuah penelitian lain dari Glasgow University membuktikan bahwa aktifitas fisik yang dilakukan di sekitar pepohonan dan rumput dapat menurunkan level stres dalam otak.
Bicara dalam peluncuran Coke Kicks 2016, psikolog tanah air Vera Itabliana mengiyakan pengaruh positif kegiatan luar ruang, terutama bagi remaja. Mereka yang lebih aktif di outdoor biasanya juga memiliki kelebihan di beberapa area tertentu seperti misalnya proses kreatifitas, perencanaan, dan pengambilan keputusan. “Paling penting adalah, kegiatan luar ruang mengajarkan remaja untuk berpikir mandiri dan merasa kompeten sehingga mereka memiliki kemampuan yang bagus dalam memecahkan masalah,” kata Vera di Jakarta, Selasa (26/4).
Berkaitan khusus dengan Coke Kicks Vera menambahkan, “Program Coke Kicks ini memberikan alternatif kegiatan yang bukan hanya menyenangkan tapi juga membantu pembentukan karakter remaja. Di lapangan, para pemain dituntut untuk bekerja sama dengan rekan-rekan satu tim untuk menciptakan gol sebagai tujuan. Belajar memahami dan mempraktekan arahan dari pelatih juga mengajarkan unsur kepemimpinan yang menjadi referensi berharga dalam proses pertumbuhan mereka menjadi dewasa.”
Coke Kicks merupakan salah satu kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) Coca-Cola Amatil Indonesia (CCAI) yang diselenggarakan secara tahunan sejak 2011, berkolaborasi dengan Asian Soccer Academy (ASA). Berada di bawah salah satu dari empat pilar CSR CCAI yaitu pilar Community, Coke Kicks dirancang sebagai program positif dan menyenangkan dimana anak-anak dari masyarakat setempat dapat berkumpul untuk menerima perlengkapan sepak bola berkualitas tinggi dan mendapatkan pelatihan profesional.
Hadir dalam acara peluncuran Coke Kicks 2016, Lee Hawkins, Technical Advisor ASA menggaris bawahi sepak bola sebagai aktivitas olahraga dan kegiatan outdoor yang tepat guna untuk belajar berunding dan kompromi serta kooperatif dengan rekan sekitar, “Metode yang diterapkan di Coke Kicks sangatlah bermanfaat bagi remaja, terutama di daerah-daerah yang kurang terjangkau, di mana para remajanya memiliki semangat tinggi tapi jarang mendapatkan kesempatan untuk dibimbing dalam hal skill.”
Modul pelatihan yang akan diberikan melalui Coke Kicks terdiri dari 3 bagian: Pelatihan bagi pelatih setempat (train the trainers), pelatihan profesional untuk remaja, dan mini competition. Pelatihan bagi para peserta termasuk teori passing, ball controlling, dribbling, turning, dan shooting, yang kemudian diselesaikan dengan permainan kelompok. Tidak lupa, menurut Lee, para pelatih lokal juga memainkan peran penting dalam perkembangan tunas bangsa di dunia sepak bola Indonesia masa depan. “Di Coke Kicks 2016 kita akan melanjutkan juga sesi Train the Trainer dengan beberapa modul pelatihan seperti life skill dan perencanaan pelatihan yang terstruktur.”
Sejak awal pelaksanaan lima tahun yang lalu, Coke Kicks telah menjalankan program pelatihan bagi lebih dari 12,000 peserta usia 14-16 tahun dan 742 pelatih setempat di 517 desa di seluruh Indonesia. “Kami percaya bahwa bisnis yang berkelanjutan memiliki keterkaitan erat dengan kesehatan dan kesejahteraan stakeholder, termasuk masyarakat di mana kami beroperasi. Mempromosikan program hidup sehat aktif terutama melalui aktivitas luar ruang ke masyarakat adalah salah satu cara kami berpartisipasi,” kata Kristy Nelwan, Head of Corporate Communications CCAI.
Menargetkan 1,280 peserta, Coke Kicks 2016 akan dilaksanakan di 10 kota; Palembang, Cirebon, Sleman, Batam, Bali, Pekanbaru, Bogor, Banyuwangi, Ambon, dan Pontianak. Di masing-masing kota, Coke Kicks 2016 akan berlangsung selama dua hari; hari pertama dialokasikan untuk pelatihan bagi peserta dan pelatih, hari kedua untuk kompetisi mini antar regu. “Selama enam tahun menjalankan Coke Kicks kami mengalami sendiri energi positif yang sangat kuat selama program berlangsung. Jadi kami harap bahwa Coke Kicks, selain memberikan kesempatan bagi para remaja dan pelatih setempat seluruh Indonesia untuk mendapatkan pelatihan sepak bola profesional, juga terus menginspirasi generasi muda kita untuk lebih banyak bergerak dan beraktivitas di luar ruang,” tutup Kristy.

Coca Cola Tambah Investasi US$ 63 Juta di RI

PT Coca-Cola Amatil Indonesia segera mengoperasikan pusat distribusi atau mega-distribution center ke-4 dan lini produksi ke-6 di Surabaya. Langkah ini sebagai upaya perusahaan mengembangkan bisnisnya di Indonesia.

Presiden Direktur Coca-Cola Amatil Indonesia Kadir Gunduz mengatakan, guna mewujudkan dua fasilitas tersebut, perseroan membelanjakan investasi US$ 63 juta atau setara Rp 835,7 miliar (kurs Rp 13.266/US$ 1=).

"Diharapkan, pusat distribusi itu mulai beroperasi pada kuartal keempat tahun ini," ujarnya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (1/4/2016).

Kadir mengakui, saat ini pangsa pasar Indonesia merupakan kontributor terbesar kedua bagi Coca-Cola Amatil Group. Oleh sebab itu, diyakini masih ada banyak peluang produksi serta pemasaran yang dapat dimaksimalkan.

Di Indonesia, The Coca-Cola Company telah menegaskan tambahan investasi senilai US$ 500 juta untuk mendukung akselerasi perluasan sistem produksi, penyimpanan (warehousing) dan infrastruktur untuk pengadaan minuman dingin. Sementara itu, Coca-Cola Amatil Indonesia telah berinvestasi total lebih dari US$ 1,5 miliar di Indonesia.
Dengan pertumbuhan bisnis industri minuman ini, kata Saleh, akan mendorong realisasi penanaman modal dan menciptakan lapangan kerja langsung maupun tidak langsung.
"Industri minuman turut menggerakkan ekonomi dari produksi, penanaman modal, penyerapan lapangan kerja," kata dia.

Menurut Saleh, pola ekspansi perusahaan minuman juga menggerakkan ekonomi di daerah karena pelaku usaha berusaha memperkuat pemasaran dengan mendekatkan produksi dan distribusi ke konsumen. Berdirinya pabrik dan pusat distribusi termasuk pergudangan menjadi buktinya.

"Hal ini merupakan strategi perusahaan menjamin kontinuitas pasokan dan menjaga loyalitas konsumen mengingat banyaknya merek produk sejenis dan persaingan yang sengit," tandasnya.(Dny/Nrm)

LINGKUNGAN PASAR

1. Penempatan Pendingin
Produk kami disajikan terbaik dalam kondisi dingin. Namun di saat yang sama, kami mengerti keterbatasan yang mungkin dimiliki oleh pelanggan kami, terutama mereka yang menjalankan usaha kecil secara independen. Oleh karenanya, kami mendukung pelanggan kami dengan menempatkan pendingin yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Pendingin merupakan salah satu investasi terbesar kami yang mana kami telah menempatkan lebih dari 297.000 pendingin hingga 2014.
2. Pelatihan Pelanggan
CCAI memahami pentingnya mengedukasi pelanggan untuk menjaga bisnis sekaligus berkontribusi dalam memastikan kesejahteraan mereka. Sejak 2009, kami menjalankan dan mengembangkan program pelatihan pelanggan di seluruh Indonesia untuk memberdayakan kemampuan dan kapasitas pelanggan kami, untuk selanjutnya terus berkontribusi bagi perekonomian Indonesia. Dari tahun 2009 sampai 2013, kami telah memberikan pelatihan kepada lebih dari 91.000 pelanggan di seluruh area operasional CCAI, termasuk pelatihan kepada 5.719 pengecer dan 264 staf Candi Borobudur pada tahun 2011-2013.